Tuesday, November 24, 2020

Manajemen Strategik|Pengantar Manajemen

 Manajemen Stategik

Semangat Pagi😊
Kali ini saya akan membahas materi sesuai judulnya ya😉Semangat💪

A. Rencana Strategi dan Rencana Operasi

Rencana Strategi (Renstra) adalah rencana yang didesain untuk memenuhi sasaran organisasi secara luas, sedang Rencana Operasional (Renop) adalah rencana yang terinci tentang kebutuhan untuk menggabungkan strategi ke dalam operasional sehari-hari. Keduanya berkaitan dengan hubungan kunci tempat sasaran organisasi dikejar. Renstra berkaitan dengan hubungan antara orang di sebuah organisasi dan orang yang bertindak di organisasi lain, sedang Renop berkaitan dengan orang di dalam organisasi.

Renstra dan Renop berbeda dalam lima hal besar berikut.
  1. Pusat bahasan: Renstra hanya membahas masalah-masalah yang berhubungan dengan kelangsungan hidup dan pengembangan usaha, sedang Renop cenderung membahas masalah-masalah operasional sehari-hari.
  2. Kurun waktu: Renstra cenderung untuk melihat ke depan beberapa tahun bahkan dekade, sedang Renop waktu yang relevan biasanya 1 tahun, tidak lebih.
  3. Cakupan: Renstra memengaruhi aktivitas organisasi secara luas, sedang Renop mempunyai cakupan yang terbatas dan spesifik.
  4. Tingkat rincian: Renstra sering kali bersifat umum dengan kata kata yang sederhana, sedang Renop relatif lebih detail sampai pada tingkat teknis yang terkecil sekalipun.
  5. Organisasi/Kepemimpinan: Renstra membutuhkan organisasi yang fleksibel dan kepemimpinan yang bersifat mengilhami (inspiring) dan mempunyai entrepreneurship yang tinggi, sedang Renop cenderung memerlukan organisasi yang stabil dan memerlukan leadership yang konservatif dan birokratif.

Tahapan Penyusunan Restra

1. Penentuan Visi, Misi dan Tujuan.
Tahap ini tanggung jawab top manajemen Pada tahapan ini yang diuji adalah kemampuan top manajemen dalam mengimplementasikan nilai-nilai dan norma norma (tentang baik-buruk, salah benar, boleh tidak boleh halal haram, ah tidak sah). Norma-norma agama serta adat dan budaya yang dipeluk dan dipraktikkan oleh top manajemen sering memengaruhi tahap ini. Tahap inilah yang dapat mengilhami karyawan dan manajemen di bawahnya untuk bekerja keras. Di tahap ini juga sering ditentukan mengenai etika kerja, macam produk dan jasa, cara pengoperasian usaha, dan skala usaha. 

 

2. Evaluasi Diri. 
Langkah ini bertujuan untuk membentuk profil perusahaan dengan mengenali diri dengan mengidentifikasi tujuan-tujuan dan strategi yang telah diterapkan saat ini. Profil perusahaan yang baik menggambarkan kondisi nyata perusahaan saat ini tentang sumber daya (manusia, mesin, tanah, bangunan keuangan, metode) yang dimiliki dan kemampuan perusahaan dalam mencapai tujuannya. Derajat kesuksesan saat ini tentu disebabkan oleh keberhasilan mengoptimalkan sumber daya yang dimiliki. Tahap ini hanya menganalisis faktor-faktor internal perusahaan. Hasil akhir dari tahap ini adalah jawaban tentang Strength and Weakness (Kekuatan dan Kelemahan).

3. Analisis Lingkungan Eksternal.
Setelah faktor-faktor internal perusahaan dievaluasi, maka faktor-faktor eksternal seperti pemasok, pesaing, pemerintah, pelanggan, serikat pekerja, dan media sebagai faktor eksternal dalam patut untuk diidentifikasi satu per satu untuk dicarikan antisipasinya sebagai faktor yang memengaruhi kegiatan perusahaan. Selain itu, terdapat juga faktor-faktor eksternal luar perusahaan seperti politik, teknologi, ekonomi, dan sosial, Semakin luar, faktor eksternal perusahaan semakin sulit untuk dikendalikan. Oleh karena itu, langkah bijak dalam mengantisipasi lingkungan eksternal luar adalah dengan membuat beberapa skenario (kondisi baik, sedang. dan buruk) Hasil akhir dari tahap ini adalah terjawabnya pertanyaan tentang Opportunity and Threat (Peluang dan Ancaman).

 

4. Pembuatan Keputusan Strategik.

 Setelah terkumpul dan terjawab masalah-masalah tentang Strength- Weakness dan Opportunity -Threat (SWOT), maka tibalah dipilih alternatif strategik yang terbaik dalam arti pilihan strategik yang mendapat manfaat yang paling besar tetapi mengandung mudharat (risiko) yang paling kecil. Pelaksanaan identifikasi pilihan strategi ini biasanya dibantu dengan tabel-tabel alternatif yang menggambarkan manfaat dan mudharat dalam satu halaman kertas analisis. Penggunaan kuadran (SWOT-4 kuadran, BCG-g kuadran) juga lazim dalam proses pembuatan strategi.

5. Implementasi Strategi.
Implementasi berarti meletakkan strategi menjadi kegiatan. Implementasi melibatkan penugasan dan pendelegasian wewenang ke tingkat manajemen di bawahnya. Dalam proses pelimpahan wewenang ini perlu diperhatikan secara seksama batasan wewenang. Kreativitas bawahan perlu dibangun secara terkendali. Pelaksanaan strategi tanpa kreativitas akan menghasilkan kegiatan yang kering dan cenderung tidak bermakna. Kegiatan yang kering cenderung sulit menjadi kegiatan yang berulang dan membudaya. Sementara itu, kreativitas yang tak terkendali cenderung kebablasan dan merusak strategi. Oleh karena itu, perlu dibuatkan batasan yang jelas dan tegas dalam pendelegasian dan pengalihan kewenangan.

 

6. Evaluasi.

Dalam tahap ini perlu dikemukakan dua pertanyaan mendasar, yaitu 1) apakah strategi diimplementasikan sesuai dengan rencana? 2) apakah strategi mencapai hasil yang diharapkan?

 

B. Implementasi Rencana Strategi

Manajemen strategi adalah proses manajemen yang mencakup penyertaan organisasi dalam membuat rencana strategis dan kemudian bertindak berdasarkan rencna tersebut.

Empat aspek kunci dari manajemen strategis yaitu :


Untuk mengimplementasikan strategi diperlukan Administrasi tugas untuk mencapai sasaran yang telah ditetapkan. Faktor-faktor kunci pada tahap ini adalah proses "politik internal" organisasi dan reaksi individual yang dapat memaksa perbaikan strategi. Tugas akhir adalah Pengendalian Strategis, memberikan umpan balik kepada manajer mengenai kemajuan yang dicapai Umpan balik negatif tentu saja dapat memicu siklus membuat rencana strategis baru.

C. Tingkat Strategi

1. Corporate-level strategy
Yaitu strategi yang dirumuskan oleh manajemen puncak untuk mengawasi perhatian dan operasi korporasi multilini. Ini berarti strategi induk yang mencakup strategi perusahaan secara keseluruhan di mana di dalamnya tercakup juga strategi untuk anak-anak perusahaan dan unit bisnis yang ada Disebut juga grand strategy. Dalam Corporate strategy dibahas ide mengenai bagaimana orang dalam sebuah organisasi akan berinteraksi dengan orang dari organisasi lain sepanjang waktu.

Dalam level strategi korporasi pertanyaan yang biasanya diajukan adalah pertanyaan-pertanyaan dasar dan basic yang menuntun visi perusahaan seperti berikut:
  1. Bisnis apa yang harus ditekuni oleh perusahaan?
  2. Apa sasaran dan harapan dari bisnis ini?
  3. Bagaimana pengalokasian sumber daya untuk mencapai semua sasaran perusahaan?
2. Business unit strategy
Adalah strategi yang dirumuskan untuk mencapai sasaran bisnis tertentu; juga disebut strategi lini bisnis. Strategi jenis ini merupakan breakdown untuk masing-masing unit usaha atau masing-masing lini bisnis. Tentu strategi ini tidak terlepas dari grand strategi yang telah diputuskan di atas. Strategi unit bisnis menyangkut cara mengelola minat dan operasi lini bisnis tertentu. Strategi ini berkaitan dengan pertanyaan-pertanyaan seperti berikut.
  1. Bagaimana bisnis bersaing di pasar?
  2. Produk/jasa seperti apa yang harus ditawarkan?
  3. Pelanggan mana yang harus dilayani?
  4. Bagaimana mendistribusikan sumber daya dalam bisnis?
3. Functional-level strategy
Strategi yang dirumuskan oleh bidang fungsional khusus dalam suatu usaha untuk melaksanakan strategi bisnis unit. Pada level strategi fungsional diciptakan kerangka kerja untuk manajer dalam setiap fungsi seperti pemasaran atau produksi untuk menjalankan strategi unit bisnis dan strategi korporasi. Jadi, strategi tingkat fungsional melengkapi hierarki strategi.

D. Hambatan Perencanaan yang Efektif

Sejumlah alasan mengapa banyak manajer ragu atau gagal dalam menetapkan tujuan dan membuat rencana bagi perusahaannya.
  1. Kurang pengetahuan tentang organisasinya
  2. Kurang pengetahuan tentang lingkungannya
  3. Ketidakmampuan melakukan peramalan secara efektif
  4. Kesulitan perencanaan operasi yang tidak berulang
  5. Biaya
  6. Takut gagal
  7. Minder, kurang percaya diri
  8. Tidak bersedia menyingkirkan tujuan-tujuan lain

Demikian penjelasan mengenai Manajemen Strategik. Mohon maaf apabila ada kesalahan dalam penulisan. Terima kasih.🙏👋





Sumber : Pengantar Manajemen/Sentot Imam Wahjono, dkk

 

Oleh : Meyliana Indriani (7101420320)

Dosen Pengampu :Bapak Agung Kuswantoro, S.Pd., M.Pd.


Tuesday, November 17, 2020

Elemen Dasar Keputusan dan Perencanaan|Pengantar Manajemen

 Elemen Dasar Keputusan dan Perencanaan


Assalamualaikum Wr.Wb.
Kali ini saya akan membahas materi sesuai judulnya. Selamat membaca😊💪

A. Lingkungan Organisasi

Manajer harus mengidentifikasi, menganalisis, mengevaluasi, mendiagnosis dan bereaksi terhadap kekuatan-kekuatan lingkungan baik berupa opportunity, risk, dan theat yang mempunyai pengaruh pada operasi perusahaan.

1. Faktor-Faktor Lingkungan Eksternal

Lingkungan Eksternal Mikro:
  • Pelanggan, dalam persaingan yang ketat penerapan strategi pemasaran yang berusaha memuaskan kebutuhan dan keinginan pelanggan adalah syarat untuk menjaga kelangsungan hidup perusahaan, berkembang, dan mendapatkan keuntungan.
  • Pesaing, analisis Strength, weakness, Opportunity, and Threat (SWOT) dan benchmarking dapat digunakan untuk menempel, di depan bahkan meninggalkan pesaing dalam hal kebijakan produk, harga dan pelayanan.
  • Pemasok, bahan baku dan bahan pembantu yang datang tepat waktu dan jumlah akan membantu upaya efisien.
  • Serikat Pekerja, kerja sama yang baik dengan manajemen akan mendukung suasana kerja yang aman, nyaman, dan berkelanjutan.
  • Pemerintah, kemampuan beradaptasi dengan peraturan pemerintah yang sering berubah sangat diperlukan.
  • Media, publikasi lewat berbagai media yang ada akan sangat memengaruhi perkembangan organisasi.
Lingkungan Eksternal Makro:
  • Ekonomi, tingkat inflasi, perubahan kurs valuta asing, perubahan suku bunga perbankan, iklim penanaman modal dalam negeri, regional dan global, pertumbuhan ekonomi regional dan nasional, dan kebijakan fiskal akan sangat memengaruhi perkembangan organisasi.
  • Politik, gonjang-ganjing politik kekanak-kanakan yang berimbas pada kerusuhan dan kekacauan akan merugikan perkembangan organisasi.
  • Sosial, kepercayaan, agama, nilai-nilai, sikap, pandangan dan pola hidup yang ada dalam masyarakat harus disadari dengan benar oleh manajemen dalam mengimplementasikan kebijakannya.
  • Teknologi, perkembangan teknologi adakalanya mematikan bisnis lain. Oleh karena itu, manajemen harus pandai membaca arah perkembangan teknologi.

2. Stakeholder Organisasi




Stakeholder atau pemangku kepentingan tersebut terdiri dari beberapa konstituen organisasi yang secara signifikan memengaruhi kemajuan dan kekuatan organisasi.

3. Tanggung Jawab Sosial dan Etika Manajer

Faktor yang memengaruhi keputusan pada masalah etika
  • hukum
  • peraturan pemerintah
  • kode etik industri dan perusahaan
  • tekanan-tekanan sosial
  • tarik ulur antara standar perorangan dan kebutuhan organisasi
Tuntutan etika bisnis tersebut menyebabkan banyak manajer yang menyesuaikan tujuan organisasinya tidak semata-mata memperoleh untung sebanyak-banyaknya tanpa mengabaikan tuntutan sosial tentang kesehatan lingkungan, pengalokasian sumbangan biaya pendidikan, dll.

Moralitas umum dalam beretika:

  • menepati janji
  • tidak suka dengki
  • saling membantu
  • menghargai orang lain
  • menghargai hak milik

B. Bisnis Global

Secara umum globalisasi adalah, pengakuan oleh organisasi bahwa bisnis harus mempunyai fokus global, bukan lokal yang mencakup tiga faktor, yaitu kedekatan, lokasi, dan sikap.

Manajer sekarang bekerja dalam kedekatan yang jauh lebih besar , berhadapan dengan pelanggan, pesaing, pemasok, media, serikat pekerja, dan pemerintah yang jauh lebih banyak dan lebih beragam.

Lokasi dan integrasi organisasi yang beroperasi melewati batas negara merupakan bagian dari globalisasi.

Globalisasi mengacu pada sikap baru, yaitu terbuka dalammempraktikkan manajemen internasional.

1. Globalisasi dan Daya Saing

Daya saing adalah posisi relatif dari suatu pesaing terhadap pesaing lainnya. Daya saing merupakan kunci untuk memenangkan persaingan, semakin tinggi daya saingnya semakin besar kemungkinan untuk memenangkan "pertrmpuran bisnis".

2. Praktik Bisnis Global

Langkah-langkah memulai bisnis global
  1. Exporting, yaitu menjual produk domestik kepasaran luar negeri. Hubungan yang terjadi adalah pasif antara perusahaan eksportir yang mewakili manajer ekspornya dengan wakil perusahaan importir di luar negeri.
  2. Licencing, yaitu penjualan hak ke pasar produk bermerk atau menggunakan proses yang dipatenkan atau material yang dilindungi Undang-Undang Hak Cipta.
  3. Franchise, yaitu suatu tipe pengaturan lisensi di mana suatu perusahaan menjual paket yang terdiri dari merk dagang, mesin, material, dan pedoman manajerial.
  4. Joint venture atau usaha patungan, inilah cara yang biasa dipakai untuk memasuki bisnis suatu negara yang melarang asing memiliki perusahaan domestik.
  5. Global strategic partnership, merupakan aliansi yang dibentuk oleh sebuah organisasi dengan satu atau beberapa negara asing dengan tujuan mengeksploitasi peluang di negara lain untuk mengambil posisi utama dalam produksi dan pemasok.

C. Pembuatan Keputusan

Pembuatan keputusan adalah mengidentifikasi dan memilih serangkaian tindakan untuk menghadapi suatu masalah atau mengambil keuntungan dari suatu kesempatan. Pembuatan keputusan adalah awal dari perencanaan dan sekaligus awal dari serangkaian panjang aktivitas manajemen. 

Pembuatan keputusan menghubungkan keadaan masa kini dengan tindakan yang akan diambil perusahaan di masa depan, di samping juga memerhatikan keadaan masa lalu.

1. Keputusan Adalah Awal dari Perencanaan

Pembuatan keputusan berhubungan dengan masalah. Suatu masalah muncul karena keadaan sebenarnya berbeda dengan yang diharapkan. Dalam banyak hal masalah mungkin adalah peluang yang tersembunyi. Proses penemuan masalah sering kali informal dan intuitif. 

Situasi biasanya memberi peringatan kepada manajer tentang kemungkinan adanya masalah:

  • deviasi dari pengalaman masa lalu

  • deviasi dari rencana yang ditetapkan

  • orang lain sering kali memberi tahu masalah kepada manajer

  • prestasi pesaing dapat juga menciptakan situasi pemecahan masalah. 

Kesempatan yang dilewatkan menciptakan masalah bagi perusahaan, dan kesempatan sering kali ditemukan pada saat mendalami masalah. 

Masalah adalah sesuatu yang membahayakan kemampuan perusahaan dalam mencapai tujuannya sedang kesempatan adalah sesuatu yang menawarkan tantangan untuk melampaui tujuan. 

Latar belakang dan keahlian manajer juga akan memengaruhi apa yang mereka pandang sebagai masalah dan kesempatan, banyak manajer yang menentukan masalah yang sama dengan arti yang berbeda, oleh karena itu beberapa pertanyaan ini perlu dijawab. 

a. Kegiatan apa yang menjadi prioritas? 

b. Apakah masalah tersebut mudah ditangani? 

c. Apakah masalah itu akan selesai dengan sendirinya kalau dibiarkan?

d. Apakah ini keputusan yang akan saya buat?

2. Sifat Keputusan

Sifat keputusan disesuaikan dengan kondisi dan dampak dari suatu keputusan. Hal-hal yang bersifat rutin dan berdampak kecil, seperti retur penjualan, dapat diselesaikan dengan menyusun suatu sistem dan prosedur sehingga dapat diputuskan secara terprogram. Sedang keputusan yang lebih penting, seperti penentuan lokasi penjualan yang baru, perekrutan tenaga manjajerial tingkat tinggi, keputusan investasi bernilai besar, memerlukan keputusan tidak terprogram.

3. Model Rasional Pembuatan Keputusan

Proses mendasar dari pembuatan keputusan rasional:
1. Pengamatan Situasi
  • Definisikan masalah
  • Diagnosis penyebabnya
  • Tentukan tujuan keputusan
2. Kembangkan Alternatif
  • Cari alternatif secara kreatif
  • Jangan mengevaluasi dulu
3. Mengevaluasi Alternatif dan Memilih yang Terbaik
  • Evaluasi alternatif
  • Pilih alternatif terbaik
4. Implementasikan Keputusan dan Monitor Hasil
  • Rencanakan implementasi
  • Implementasukan rencara
  • Monitor implementasi dan buat penyesuaian yang perlu

D. Perencana

Dalam organisasi, perencanaan adalah proses menetapkan sasaran dan memilih cara untuk mencapai sasaran yang telah ditetapkan.

Organisasi biasanya dimanajemeni menurut dua rencana yaitu rencana strategis dan rencana operasional.

  • Rencana strategis, yang didesain oleh manajer puncak untuk menentukan sasaran secara luas

  • Rencana operasional, berisi rincian untuk mengimplementasikan dalam kegiatan sehari-hari

Baik rencana strategis maupun rencana operasional dibuat dan dilaksanakan  secara hierarkis.

Pernyaraan misi adalah sasaran organisasi secara luas, berdasarkan pada alasan perencanaan, yang membenarkan keberadaan organisasi, karena pernyataan tersebut cenderung banyak kalimat, biasanya disingkat hanya menjadi beberapa kata saja menjadi moto.

Pernyataan misi merupakan bagian yang relatif permanen dari ciri-ciri organisasi dan dapat berfungsi untuk mempersatukan dan memotivasi anggota organisasi.


Demikian penjelasan mengenai Elemen Dasar Keputusan dan Perencanaan. Mohon maaf bila ada kesalahan dalam penulisan. Terimakasih.👋

Wassalamualaikum Wr.Wb




Sumber : Pengantar Manajemen/Sentot Imam Wahjono, dkk


Oleh : Meyliana Indriani (7101420320)

Dosen Pengampu :Bapak Agung Kuswantoro, S.Pd., M.Pd.


Wednesday, November 11, 2020

Perkembangan Teori Manajemen|Pengantar Manajemen

 Perkembangan Teori Manajemen


Assalamualaikum Wr.Wb

Untuk kali ini saya akan membahas tentang Perkembangan Teori Manajemen. Selamat membaca😊


A. Evolusi Teori Manajemen

Manajemen sebagai ilmu, telah berkembang sejak ditemukannya ilmu manajemen ilmiah (scientific management) oleh Taylor yang dikenal sebagai Bapak Manajemen Dunia.

        Berikut periodesasi perkembangan ilmu manajemen:

  1. Manajemen Ilmiah (1870-1930). Tokoh-tokoh : FW Taylor, Frank & Lilian Gilbreth, Henry Gantt, Harrington Emerson.
  2. Teori Organisasi Klasik (1900-1940). Tokoh-tokoh : Henri Fayol, Jame D. Mooney, Mary Parker Follet, Herbert Simon, Chester I. Barnard.
  3. Hubungan Manusiawi (1930-1940). Tokoh-tokoh : Hawthorne Studies, Elton Mayo, Fritz Roethlisberger, Hugo Munstreberg.
  4. Manajemen Modern (1940-sekarang. Tokoh-tokoh : Abraham Maslow, Chris Argyris, Douglas McGregor, Edgar Schein, David McClelland, Robert Blake & Jane Mouton,Ernest Dale, Peter Drucker, dll.

B. Aliran Manajemen Ilmiah

Aliran ini mencoba untuk menerangkan secara ilmiah metode terbaik untuk melaksanakan tugas apa pun dan untuk menyeleksi, melatih, dan memotivasi pekerja.

        Empat prinsip dasar yang digunakan untuk mencapai efisiensi:

  1. pengembangan metode ilmiah untuk menentukan cara terbaik dalam pelaksanaan setiap pekerjaan.
  2. Seleksi ilmiah karyawan, dengan menentukan tanggung jawab karyawan sesuai dengan kemampuannya.
  3. Pendidikan dan pengembangan karyawan secara ilmiah.
  4. Kerja sama yang baik antara manajemen dan karyawan.
        Keterbatasan manajemen ilmiah

  1. Karena kenaikan produktivitas sering tidak diikuti oleh kenaikan pendapatan.
  2. Pendekatan "rasional" hanya memuaskan kebutuhan ekonomis dan fisik tidak kebutuhan sosial karyawan.
  3. Mengabaikan keinginan manusia dalam hal kepuasan kerja.
C. Aliran Teori Organisasi Klasik
Henry Fayol adalah salah satu tokoh dalam kelompok aliran teori organisasi klasik, yang mengemukakan 14 prinsip manajemen berikut ini.

  1. Pembagian kerja, spesialisasi akan meningkatkan efisien kerja.
  2. Wewenang, hak untuk memberi perintah dan dipatuhi.
  3. Disiplin, harus ada respek dan ketaatan pada peranan dan tujuan organisasi.
  4. Kesatuan perintah, hanya ada satu atasan.
  5. Kesatuan pengarahan, hanya ada satu direction dari satu manajer dengan satu rencana.
  6. Meletakan kepentingan perseorangan dibawah kepentingan umum.
  7. Balas jasa, kompensasi harus adil antara owner dan karyawan.
  8. Sentralisasi, pemusatan yang seimbang.
  9. Rantai sekalar, garis wewenang dan perintah yang jelas.
  10. Order, sarana dan orang harus berada pada saat dan waktu yang tepat .
  11. Keadilan, ada kesamaan perlakuan dalan organisasi .
  12. Stabilitas staf organisasi, turn over karyawan harus rendah.
  13. Inisiatif, ada kebebasan dalam kebebasan rencana.
  14. Esprit de corps, cinta pada organisasi
D. Aliran Hubungan Manusiawi 

        Elton Mayo mengatakan bahwa: bilamenajemen personalia mendorong lebih banyak dan lebih baik dalam kerja, hubungan manusiawi akan menjadi baik. bila moral dan efisiensi memburuk maka hubungan manusiawi dalam organisasi juga terpengaruh menjadi buruk. sehingingga harus ditemukan faktor-faktor pemotivasi bagi karyawan.
kelemahan aliran hubungan manusiawi: 
  1. Konsep mahkluk sosial tidak menggambarkan secara lengkap individu dalam tempatnya bekerja.
  2. perbaikan kondisi kerja tidak meningkatan produktivitas yang diharapk.
  3. lingkungan sosisal hanya salah satu faktor pengaruh produktivitas .
  4. tingkat upah, struktur organisasi dan hubungan perburuhan juga berperan.
E. Aliran Manajemen Modern 
    1. Pendekatan Perilaku Organisasi
        Prinsip dasar perilaku organisasi:
  • manajemen harus sistematik dan pendekatan yang digunakan harus dengan pertimbangan yang hati-hati
  • pendekatan motivasional yang menghasilkan komitmen bekerja terhadap tujuan organisasi sangat dibutuhkan 
  • menajemen tidak dapat dipandang sebagai suatu proses teknik secara ketatat (peranan , prosedur , prinsip ).
  • unsur manusia adalah faktor kunci penetu sukses atau kegagalan pencapaian tujuan organisasi.
  • organisasi harus menyediakan iklim yang mendatangkan kesempatan bagi karyawan untuk memuaskan seluruh kebutuhannya.
  • Pekerjaan setiap karyawan harus disusun yang memungkinkan karena mencapai kepuasan diri dari pekerjaan tersebut
  • Komitmen dapat dikembangkan melalui partisipasi dan eterlibatan para karyawan.
  • Pola-pola pengawasan dan manajemen pemangawasan harus dibangun atas dasar pengertian positif yang menyeluruh mengenai karyawan dan reaksi mereka terhadap pekerjaan.
    2. Pendekatan Kuantitatif
        Langkah-langkah pendekatan management science:
        a. perumusan masalah.
        b. penyusunan suatu model sistematis.
        c. mendapatkan penyelesaian dari model.
        d. pengujian model dan hasil yang dapat dari model.
        e. penempatan pengawasan atas hasil-hasil.
        f. pelaksanaan pengawasan atas hasil-hasil.
        g. pelaksanaan hasil dalam kegiatan implementasi.

    3. Pendekatan Sistem.
Sebagai suatu pendekatan manajemen, "sistem" mencangkup baik sistem umum maupun sistem khusus dan analisis tertutup maupun terbuka. Pendekatan sistem umum pada manajemen dapat dikaitkan dengan konsep-konsep organisasi formal dan teknis, filosofis, dan sosiopsikologis. Sedangkan analisis sistem manajemen khusus meliputi bidang-bidang seperti struktur organisasi, desain pekerjaan, akuntansi, sistem informasi, serta mekanisme perncanaan dan pengawasan.

    4. Pendekatan Kontingensi
Menurut pendekatan ini tugas manajer adalah mengidentifikasi teknik mana, pada situasi tertentu, di bawah keadaan tertentu, dan pada waktu tertentu akan membantu pencapaian tujuan manajemen. Perbedaan kondisi dan situasi membutuhkan aplikasi teknik manajemen yang berbeda pula, karena tidak ada teknik, prinsip dan konsep universal yang dapat diterapkan dalam segala kondisi.

 


Demikian penjelasan mengenai perkembangan teori manajeme. Mohon maaf bila ada kesalahan dalam penulisan.
Wassalamualaikum Wr.Wb


Sumber : Pengantar Manajemen/Sentot Imam Wahjono, dkk

Oleh : Meyliana Indriani (7101420320)
Dosen Pengampu :Bapak Agung Kuswantoro, S.Pd., M.Pd.



SISTEM INFORMASI GRAB

Tugas Mata Kuliah Sistem Informasi Administrasi Perkantoran Nama : Meyliana Indriani NIM : 7101420320 Rombel : PAP A 2020 Dosen Pengampu : B...