Tuesday, November 24, 2020

Manajemen Strategik|Pengantar Manajemen

 Manajemen Stategik

Semangat Pagi😊
Kali ini saya akan membahas materi sesuai judulnya ya😉Semangat💪

A. Rencana Strategi dan Rencana Operasi

Rencana Strategi (Renstra) adalah rencana yang didesain untuk memenuhi sasaran organisasi secara luas, sedang Rencana Operasional (Renop) adalah rencana yang terinci tentang kebutuhan untuk menggabungkan strategi ke dalam operasional sehari-hari. Keduanya berkaitan dengan hubungan kunci tempat sasaran organisasi dikejar. Renstra berkaitan dengan hubungan antara orang di sebuah organisasi dan orang yang bertindak di organisasi lain, sedang Renop berkaitan dengan orang di dalam organisasi.

Renstra dan Renop berbeda dalam lima hal besar berikut.
  1. Pusat bahasan: Renstra hanya membahas masalah-masalah yang berhubungan dengan kelangsungan hidup dan pengembangan usaha, sedang Renop cenderung membahas masalah-masalah operasional sehari-hari.
  2. Kurun waktu: Renstra cenderung untuk melihat ke depan beberapa tahun bahkan dekade, sedang Renop waktu yang relevan biasanya 1 tahun, tidak lebih.
  3. Cakupan: Renstra memengaruhi aktivitas organisasi secara luas, sedang Renop mempunyai cakupan yang terbatas dan spesifik.
  4. Tingkat rincian: Renstra sering kali bersifat umum dengan kata kata yang sederhana, sedang Renop relatif lebih detail sampai pada tingkat teknis yang terkecil sekalipun.
  5. Organisasi/Kepemimpinan: Renstra membutuhkan organisasi yang fleksibel dan kepemimpinan yang bersifat mengilhami (inspiring) dan mempunyai entrepreneurship yang tinggi, sedang Renop cenderung memerlukan organisasi yang stabil dan memerlukan leadership yang konservatif dan birokratif.

Tahapan Penyusunan Restra

1. Penentuan Visi, Misi dan Tujuan.
Tahap ini tanggung jawab top manajemen Pada tahapan ini yang diuji adalah kemampuan top manajemen dalam mengimplementasikan nilai-nilai dan norma norma (tentang baik-buruk, salah benar, boleh tidak boleh halal haram, ah tidak sah). Norma-norma agama serta adat dan budaya yang dipeluk dan dipraktikkan oleh top manajemen sering memengaruhi tahap ini. Tahap inilah yang dapat mengilhami karyawan dan manajemen di bawahnya untuk bekerja keras. Di tahap ini juga sering ditentukan mengenai etika kerja, macam produk dan jasa, cara pengoperasian usaha, dan skala usaha. 

 

2. Evaluasi Diri. 
Langkah ini bertujuan untuk membentuk profil perusahaan dengan mengenali diri dengan mengidentifikasi tujuan-tujuan dan strategi yang telah diterapkan saat ini. Profil perusahaan yang baik menggambarkan kondisi nyata perusahaan saat ini tentang sumber daya (manusia, mesin, tanah, bangunan keuangan, metode) yang dimiliki dan kemampuan perusahaan dalam mencapai tujuannya. Derajat kesuksesan saat ini tentu disebabkan oleh keberhasilan mengoptimalkan sumber daya yang dimiliki. Tahap ini hanya menganalisis faktor-faktor internal perusahaan. Hasil akhir dari tahap ini adalah jawaban tentang Strength and Weakness (Kekuatan dan Kelemahan).

3. Analisis Lingkungan Eksternal.
Setelah faktor-faktor internal perusahaan dievaluasi, maka faktor-faktor eksternal seperti pemasok, pesaing, pemerintah, pelanggan, serikat pekerja, dan media sebagai faktor eksternal dalam patut untuk diidentifikasi satu per satu untuk dicarikan antisipasinya sebagai faktor yang memengaruhi kegiatan perusahaan. Selain itu, terdapat juga faktor-faktor eksternal luar perusahaan seperti politik, teknologi, ekonomi, dan sosial, Semakin luar, faktor eksternal perusahaan semakin sulit untuk dikendalikan. Oleh karena itu, langkah bijak dalam mengantisipasi lingkungan eksternal luar adalah dengan membuat beberapa skenario (kondisi baik, sedang. dan buruk) Hasil akhir dari tahap ini adalah terjawabnya pertanyaan tentang Opportunity and Threat (Peluang dan Ancaman).

 

4. Pembuatan Keputusan Strategik.

 Setelah terkumpul dan terjawab masalah-masalah tentang Strength- Weakness dan Opportunity -Threat (SWOT), maka tibalah dipilih alternatif strategik yang terbaik dalam arti pilihan strategik yang mendapat manfaat yang paling besar tetapi mengandung mudharat (risiko) yang paling kecil. Pelaksanaan identifikasi pilihan strategi ini biasanya dibantu dengan tabel-tabel alternatif yang menggambarkan manfaat dan mudharat dalam satu halaman kertas analisis. Penggunaan kuadran (SWOT-4 kuadran, BCG-g kuadran) juga lazim dalam proses pembuatan strategi.

5. Implementasi Strategi.
Implementasi berarti meletakkan strategi menjadi kegiatan. Implementasi melibatkan penugasan dan pendelegasian wewenang ke tingkat manajemen di bawahnya. Dalam proses pelimpahan wewenang ini perlu diperhatikan secara seksama batasan wewenang. Kreativitas bawahan perlu dibangun secara terkendali. Pelaksanaan strategi tanpa kreativitas akan menghasilkan kegiatan yang kering dan cenderung tidak bermakna. Kegiatan yang kering cenderung sulit menjadi kegiatan yang berulang dan membudaya. Sementara itu, kreativitas yang tak terkendali cenderung kebablasan dan merusak strategi. Oleh karena itu, perlu dibuatkan batasan yang jelas dan tegas dalam pendelegasian dan pengalihan kewenangan.

 

6. Evaluasi.

Dalam tahap ini perlu dikemukakan dua pertanyaan mendasar, yaitu 1) apakah strategi diimplementasikan sesuai dengan rencana? 2) apakah strategi mencapai hasil yang diharapkan?

 

B. Implementasi Rencana Strategi

Manajemen strategi adalah proses manajemen yang mencakup penyertaan organisasi dalam membuat rencana strategis dan kemudian bertindak berdasarkan rencna tersebut.

Empat aspek kunci dari manajemen strategis yaitu :


Untuk mengimplementasikan strategi diperlukan Administrasi tugas untuk mencapai sasaran yang telah ditetapkan. Faktor-faktor kunci pada tahap ini adalah proses "politik internal" organisasi dan reaksi individual yang dapat memaksa perbaikan strategi. Tugas akhir adalah Pengendalian Strategis, memberikan umpan balik kepada manajer mengenai kemajuan yang dicapai Umpan balik negatif tentu saja dapat memicu siklus membuat rencana strategis baru.

C. Tingkat Strategi

1. Corporate-level strategy
Yaitu strategi yang dirumuskan oleh manajemen puncak untuk mengawasi perhatian dan operasi korporasi multilini. Ini berarti strategi induk yang mencakup strategi perusahaan secara keseluruhan di mana di dalamnya tercakup juga strategi untuk anak-anak perusahaan dan unit bisnis yang ada Disebut juga grand strategy. Dalam Corporate strategy dibahas ide mengenai bagaimana orang dalam sebuah organisasi akan berinteraksi dengan orang dari organisasi lain sepanjang waktu.

Dalam level strategi korporasi pertanyaan yang biasanya diajukan adalah pertanyaan-pertanyaan dasar dan basic yang menuntun visi perusahaan seperti berikut:
  1. Bisnis apa yang harus ditekuni oleh perusahaan?
  2. Apa sasaran dan harapan dari bisnis ini?
  3. Bagaimana pengalokasian sumber daya untuk mencapai semua sasaran perusahaan?
2. Business unit strategy
Adalah strategi yang dirumuskan untuk mencapai sasaran bisnis tertentu; juga disebut strategi lini bisnis. Strategi jenis ini merupakan breakdown untuk masing-masing unit usaha atau masing-masing lini bisnis. Tentu strategi ini tidak terlepas dari grand strategi yang telah diputuskan di atas. Strategi unit bisnis menyangkut cara mengelola minat dan operasi lini bisnis tertentu. Strategi ini berkaitan dengan pertanyaan-pertanyaan seperti berikut.
  1. Bagaimana bisnis bersaing di pasar?
  2. Produk/jasa seperti apa yang harus ditawarkan?
  3. Pelanggan mana yang harus dilayani?
  4. Bagaimana mendistribusikan sumber daya dalam bisnis?
3. Functional-level strategy
Strategi yang dirumuskan oleh bidang fungsional khusus dalam suatu usaha untuk melaksanakan strategi bisnis unit. Pada level strategi fungsional diciptakan kerangka kerja untuk manajer dalam setiap fungsi seperti pemasaran atau produksi untuk menjalankan strategi unit bisnis dan strategi korporasi. Jadi, strategi tingkat fungsional melengkapi hierarki strategi.

D. Hambatan Perencanaan yang Efektif

Sejumlah alasan mengapa banyak manajer ragu atau gagal dalam menetapkan tujuan dan membuat rencana bagi perusahaannya.
  1. Kurang pengetahuan tentang organisasinya
  2. Kurang pengetahuan tentang lingkungannya
  3. Ketidakmampuan melakukan peramalan secara efektif
  4. Kesulitan perencanaan operasi yang tidak berulang
  5. Biaya
  6. Takut gagal
  7. Minder, kurang percaya diri
  8. Tidak bersedia menyingkirkan tujuan-tujuan lain

Demikian penjelasan mengenai Manajemen Strategik. Mohon maaf apabila ada kesalahan dalam penulisan. Terima kasih.🙏👋





Sumber : Pengantar Manajemen/Sentot Imam Wahjono, dkk

 

Oleh : Meyliana Indriani (7101420320)

Dosen Pengampu :Bapak Agung Kuswantoro, S.Pd., M.Pd.


No comments:

Post a Comment

SISTEM INFORMASI GRAB

Tugas Mata Kuliah Sistem Informasi Administrasi Perkantoran Nama : Meyliana Indriani NIM : 7101420320 Rombel : PAP A 2020 Dosen Pengampu : B...